aussie's blog

life is roller coaster

Makna Seorang Teman

September15

Ada dua teman karib sedang dalam perjalanan. Ismail dan Salim namanya. Ditengah perjalanan mereka bertengkar, Ismail tidak menahan amarah kemudian mendorong Salim sampai terjatuh. Meski Salim sakit, Salim tidak melawan. Tanpa bertutur kata. Salim menulis di atas pasir.

‘Hari ini temanku mendorongku sampai jatuh.’

Mereka lalu melanjutkan perjalanan hingaa menemukan sungai untuk membersihkan badan. Namun ternyata sungai itu teramat dalam sehingga Salim hanyut dan nyaris tenggelam dan diselamatkan oleh Ismail, temannya. Ketika Salim siuman dan rasa ketakutannya hilang Salim menulis disebuah batu.

‘Hari ini temanku menyelamatkan nyawaku.’

Melihat apa yang dilakukan Salim, Ismail terheran-heran dan bertanya, ‘Kenapa waktu aku mendorongmu hingga terjatuh, kau menulis diatas pasir dan sekarang kau menulis diatas batu?’

Salim tersenyum dan menjawabnya, ‘Ketika seorang sahabat melukai hati kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus luka dihati. Dan apabila diantara teman terjadi kebaikan sekecil apapun kita harus memahat diatas batu hati kita agar kita tetap mengenang, tidak hilang tertiup waktu.’ Dua teman baik itu akhirnya tertawa bersama, bahagia menikmati pemandangan yang indah disetiap perjalanan.

Pesan kisah diatas adalah hidup ini kita seringkali berbeda pendapat dan berkonflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karena itu saling memaafkan dan melupakan masalah dan kesalahan orang lain akan membuat hidup kita menjadi bahagia dan kebaikan orang lain yang pernah dilakukan untuk kita menjadi kenangan yang terindah dalam hidup kita yang senantiasa tersimpan dalam hati tak terhapus oleh waktu. Itulah makna seorang teman dan semoga kisah pertemanan kita terus sampai kita tua…amien.

Semua Terjadi karena Suatu Alasan

September15

Saya mendapatkan cerita ini dari seorang teman dan cerita ini sangat mempengaruhi saya hingga sekarang. Cerita ini tentang seorang guru di Amerika, Frank Slazak. Setelah mendengar cerita ini membuatku sadar bahwa semua yang terjadi di dunia ini merupakan kehendak Allah SWT dan terjadi karena sebuah alasan.
Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadilah.

Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington . Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center.

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ?. Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa.

Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku.

Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan?. Kenapa bukan aku?. Bagian diriku yang mana yang kurang?. Mengapa aku diperlakukan kejam?. Aku berpaling pada ayahku. Katanya,”Semua terjadi karena suatu alasan.”

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku…?

Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang. Aku teringat kata-kata ayahku,”Semua terjadi karena suatu alasan.”

Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang. Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

Tuhan mengabulkan doa kita dengan 3 cara :

  1. Apabila Tuhan mengatakan YA Maka kita akan mendapatkan apa yang kita minta
  2. Apabila Tuhan mengatakan TIDAK Maka kita akan mendapatkan yang lebih baik
  3. Apabila Tuhan mengatakan TUNGGU Maka kita akan mendapatkan yang TERBAIK sesuai dengan kehendak NYA

Salah deuii haha http://plurk….

August8

Salah deuii haha http://plurk.com/p/6tkwdv

posted under Academic | No Comments »

Koo yooss http://plurk.com/p/6…

August8

Koo yooss http://plurk.com/p/6tkw77

posted under Academic | No Comments »

kontinu ato ga ga penting deh!…

August8

kontinu ato ga ga penting deh!teorema aduuuhh http://plurk.com/p/6tkvky

posted under Academic | 1 Comment »

keselek pepsi.uhuk uhuk http:/…

August8

keselek pepsi.uhuk uhuk http://plurk.com/p/6t6m6z

posted under Academic | No Comments »

Okeeh diba lauren! http://plur…

August8

Okeeh diba lauren! http://plurk.com/p/6t5fck

posted under Academic | No Comments »

sialan lw bou!kecup aja s diba…

August8

sialan lw bou!kecup aja s diba!wkakakak http://plurk.com/p/6t4w8i

posted under Academic | No Comments »

hayu munggahan alias cucurag a…

August8

hayu munggahan alias cucurag alias makan2 sbelum puasa.pada mw ga?kalo iya comment k gw.hehhe http://plurk.com/p/6t47ir

posted under Academic | No Comments »

hayuu munggahan! http://plurk….

August8

hayuu munggahan! http://plurk.com/p/6t46ha

posted under Academic | No Comments »
« Older Entries